Tampilkan postingan dengan label Taujih KH. Abdul Aziz Abdur Rauf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih KH. Abdul Aziz Abdur Rauf. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2017

Melakukan Amal Shalih Sebanyak-banyaknya





لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ * يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُون بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِين

“Mereka itu tidak sama. Di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang yang shalih.” (QS Ali ‘Imran : 113-114)

Kuat berinteraksi dengan Al Quran sesungguhnya merupakan dampak dari sekian banyak amal shalih yang telah kita lakukan. Antara Al Quran dan amal shalih saling menimbulkan motivasi antara satu dengan yang lain. Hari-hari yang diisi tilawah satu atau dua juz tentu beda dengan yang tidak diisi dengan tilawah sama sekali. Perbedaan akan tampak dalam semangat shalat wajib dan sunnah, atau ketenangan dalam mengatasi berbagai permasalahan kehidupan.
Jika sepakat dengan cara berpikir tersebut, maka dapat dipastikan bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al Quran akan memiliki kebiasaan beramal shalih, misalnya:
  1. Mencintai Masjid
    Menurut surah At-Taubah [9]:18, kecintaan terhadap masjid harus dibuktikan dengan adanya indikasi ‘imarah (memakmurkan). Ketika Rasulullah Saw membaca ayat ini, beliau pun bersabda: “Jika engkau melihat seorang laki-laki mondar-mandir ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia memiliki iman yang baik.” (HR Ahmad dan Tirmidzi) 
    Kita sering mengeluh tak dapat berinteraksi dengan Al Quran, padahal kita sendiri yang menciptakan kondisi itu. Buktinya adalah lemahnya hubungan kita dengan masjid. Dari shalat lima waktu yang seharusnya kita lakukan di masjid, kadang-kadang hanya dua atau tiga waktu saja yang kita lakukan di masjid. Keberadaan kita di masjid pun sangat singkat, datang menjelang takbiratul ihram dan keluar paling awal. Bayangkan berapa puluh amal shalih yang tertinggal dengan kondisi seperti itu. Sayang sekali bila kita tidak pernah merasakan suatu kerugian besar karena keterlambatan kita datang ke masjid.
  2. Banyak Berdzikir
    Berdzikir kepada Allah ﷻ secara hati dan lisan dapat membangun kemampuan berinteraksi dengan Al Quran. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al Quran”. Sudahkah amaliyah dzikir yang secara harian dilaksanakan oleh Rasulullah ﷺ kita amalkan secara rutin? Antara lain:
    • Dzikir ba’da shalat wajib terdiri dari tahlil 10 kali, tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali.
    • Dzikir pagi dan petang yang dirangkum ‘ulama dalam Al-Ma’tsurat atau Hishnul Muslim atau Al-Wirdul Latif
    • Dzikir dalam kegiatan seperti makan, minum, naik kendaraan, keluar masuk kakus dan lain sebagainya
  3. Berkomitmen dengan Shalat Wajib dan Shalat Sunnah
    Jika pelaksanaan shalat membutuhkan kedisiplinan, maka demikian pula halnya dengan berinteraksi dengan Al Quran.
  4. Banyak Melakukan Shaum Sunnah
    Orang yang sedang shaum akan mengisi sepanjang harinya dengan ketaatan kepada Allah ﷻ yang akan menghasilkan keterikatan yang kuat dengan Allah Swt lalu akan berdampak kepada pembersihan jiwa dan peningkatan kualitas maknawiyah.
  5. Rajin Bertilawah
Ber-tilawah berarti melatih kesabaran dan ketundukan jiwa untuk berlama-lama dengan Al-Qur’an. Kalau saja kita bisa rutin khatam sebulan sekali maka kita akan semakin stabil dan tidak mudah tunduk kepada hawa nafsu. Jiwa akan lebih tenang karena selalu tersibukkan dengan Allah Swt. Bila jiwa dalam kondisi ini, maka niscaya kita akan selalu siap dengan interaksi yang lebih memerlukan kesabaran yang lebih besar.

Semua amal shalih pada hakikatnya saling terkait, seperti shalat, tilawah, i’tikaf di masjid dan lain sebagainya. Jangan biarkan jiwa kita terus mengeluh mengenai susah dan beratnya berinteraksi dan bergaul dengan Al-Qur’an. Lakukanlah aksi, niscaya jarak menuju kepada yang kita cita-citakan akan semakin dekat. Insya Allah.

Jumat, 27 Januari 2017

Mendambakan Al Qur’an Sebagai Kenikmatan Seperti Kita Mendambakan Harta


“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allahlalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.”(Muttafaqun ‘alaih)

Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kita pun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah, tetapi juga sekaligus menjadi fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan harta dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. 

Dengan iman, ketika kita melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya, misalnya ia sangat baik interaksinya dengan Al Qur’an, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam aktifitas dakwah, maka kita pun sangat mendambakannya. 

Itulah yang disebut ghibthah, yaitu menginginkan kenikmatan yang ada pada orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.

Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:

1. Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang hanya terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tetapi untuk Al Qur’an hati kita adem ayem saja ? Jika demikian kondisinya, maka itu adalah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al Qur’an) dalam diri kita.

Para salafush shalih dahulu, selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al Qur’an dan hal-hal yang bersifat ukhrawi. 

Telah menjadi tabiat dan karakter dasar manusia untuk senang berkompetisi, dan jika tidak diarahkan, maka kompetisi tersebut akan cenderung kepada hal-hal yang bersifat duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.

2. Rasulullah ﷺ dalam sabdanya menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat dengan Al Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari Al Qur’an : “Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang dahulu bersahabat dengannya.”(HR. Muslim).

Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat Al Qur’an ? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al Qur’an ? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (QS Al-Baqarah : 255)

3. Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al Qur’an. Apakah kita masih bersikap masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak mengkhatamkan Al Qur’an ? Adakah perasaan sedih dalam hati jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al Qur’an ? Sedihkah kita karena awam atau buta sama sekali dengan kandungan dan makna Al Qur’an ? Jika belum, maka dikhawatirkan kitalah yang disebut Rasulullah menjadi orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuuran. Allah berfirman :
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ ”. (QS Al-Furqan : 30)

4. Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al Qur’an ? Jika pengetahuan kita tentang Al Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka segera bertaubatlah kepada Allah ﷻ dan segera upayakan untuk kembali kepada Al Qur’an agar kita tidak dikecam oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman :
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Ruum : 7)

5. Sabda Rasulullah ﷺ :
“Barangsiapa yang belajar Al Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al Qur’an’". (HR Abu Dawud, Ahmad & Al Hakim)

Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al Qur’annya ? Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah ﷻ kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik ? Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, khususnya hafalan, lemah dan terbatas ? 

Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer, tetapi santai saja terhadap keterbatasannya dalam masalah yang terkait dengan Al Qur’an.

Isi Al Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. 

Kita memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al Qur’an hanya terbatas pada huruf-hurufnya saja, akan tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an itu sendiri. Kita ingin menjadi hamba yang utuh interaksinya dengan Al Qur`an, Insya Allah.

Rabu, 25 Januari 2017

Siap Bekerja Keras dan Berlama-lama Bersama Al Qur`an


Sahabat Nabi yang mulia Hudzaifah Ibnul Yaman menceritakan pengalamannya bersama Rasululullah ﷺ : ‘Pada suatu malam aku shalat bersama Rasulullah mulai dengan membaca surah Al-Baqarah. Hatiku berkata, ‘beliau akan ruku’ pada ayat ke-100′. Namun kemudian beliau melanjutkannya. Hatiku berkata lagi ‘barangkali beliau akan menghabiskan satu surah kemudian ruku’. Ternyata beliau melanjutkannya dengan menghabiskan surah An-Nisa. Begitulah perasaanku selalu berkata. Ternyata beliau melanjutkannya dengan surah Ali ‘Imran. Tiga surah di atas (yang hampir sama dengan 5,5 juz) dibacanya dengan tartil. Jika membaca ayat yang terdapat perintah tasbih beliau bertasbih. Jika membaca ayat yang memerintahkan untuk berdoa beliau berdoa. Begitu juga jika ayatnya memerintahkan untuk meminta perlindungan, Rasulullah berdoa meminta perlindungan. Kemudian belia ruku’, dan ternyata panjang ruku’nya hampir sama dengan lama berdirinya. Begitu juga saat i’tidal dan sujud.” (HR. Muslim)
Bagaimana perasaan kita pada saat membaca hadits ini? Apakah kita terobsesi untuk mencobanya walaupun sekali seumur hidup? Atau kita menganggap hadits ini sekedar sekilas info saja dan kita merasa tidak mungkin untuk bisa melakukannya ? Padahal Allah ﷻ telah memberikan kita berbagai macam daya dukung lahir dan batin. Al Qur’an dan As-Sunnah lah yang dapat menjadikan kita mampu melaksanakannya.
Nilai tarbiyah yang terkandung di dalam kisah tersebut:
1. Jika belum tergugah untuk melaksanakannya, berkomitmenlah untuk melaksanakannya walaupun  hanya sekali seumur hidup. Tabiat orang shalih adalah selalu ingin segera melaksanakan amal shalih, apalagi jika amal tersebut belum pernah dilaksanakan sebelumnya.

2. Kekuatan dan keteguhan Rasulullah ﷺ dan para Shahabat dalam berda’wah dan berjihad serta memberikan kontribusi untuk Islam dan umatnya sangat ditentukan oleh kekuatan dan keteguhan dalam beribadah kepada Allah ﷻ dan beramal shalih dengan semua cabangnya.

Untuk dapat mencintai dan berinteraksi dengan Al Qur’an diperlukan mujahadah sebagai berikut :
1. Banyak beribadah, khususnya shalat. 
Al Qur’an adalah Kalamullah (wahyu Allah) sehingga jiwa yang tidak dekat dengan Allah ﷻ tidak akan sejalan dan menyatu dengan ruh Al Qur’an. Shalat menjadikan manusia terputus dari dunia luar dan hanya berkonsentrasi dengan bermunajat kepada Allah saja, tentu ini akan memudahkan kita untuk mengerti ayat-ayat Allah ﷻ baik di dalam maupun luar shalat. Jika ada seseorang yang banyak beribadah tetapi tidak memiliki kecintaan standar dengan Al Qur’an maka perlu evaluasi terhadap kondisi ibadah orang tersebut dari segi legalitas syar’inya, keikhlasannya, dan pengetahuan tentang ibadah yang dilakukannya. Beribadah dan berinteraksi dengan Al Qur’an adalah satu paket aktivitas yang tidak terpisahkan. Untuk mencapai kondisi seperti ini, perlu mujahadah atau kesungguhan.

2. Memperbanyak Tilawah

Dari hadits tadi, kita ketahui bahwa Rasulullah ﷺ tilawah dalam sholatnya sebanyak 5 ¼ juz. Bila 1 juz butuh 40 menit, artinya butuh waktu sekitar 3,5 jam. Aktivitas seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh manusia yang tidak terbiasa memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Kalau ingin seperti Rasulullah ﷺ, perlu pemanasan, misalnya membiasakan diri shalat malam, berkomitmen untuk tilawah 1 juz per hari, memperbanyak khatam Al Qur’an, banyak berdzikir kepada Allah ﷻ, banyak membaca kehidupan salafush shalih dalam beribadah dan lainnya.

3. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Al Qur’an.

Bila sesuatu dilakukan beramai-ramai atau secara berjama'ah, tentu akan timbul semangat yang tidak akan didapatkan bila melaksanakannya secara sendirian. Bahkan Hudzaifah pun mungkin tak dapat berlama-lama jika harus melaksanakan shalat malam sepanjang itu sendirian. Hudzaifah mampu melaksanakan sholat selama itu, salah satu sebab utamanya adalah karena beliau sedang bersama Rasulullah ﷺ.

Senin, 23 Januari 2017

Menjawab Segera Waswas Syaithan Saat Berinteraksi Dengan Al Qur`an


"Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk".(QS. An-Nahl : 98)

Dari kesimpulan penafsiran Imam Ibnul Qayyim terhadap ayat di atas, dinyatakan bahwa tak ada pekerjaan manusia yang akan mendapat gangguan syaitan yang lebih besar dan dahsyat daripada kegiatan bersama Al Quran. Godaan itu antara lain:

1.Waswas Syaithan bagi Para Pengajar Al-Qur`an.

Maksudnya adalah Syaithan berbisik “berhentilah mengajar Al Qur’an karena kegiatan itu tidak menjanjikan kekayaan, melainkan hidup dalam kemiskinan!”.
Seakan-akan bahwa dengan mengajarkan Al Qur’an, maka manusia akan menjadi miskin dan jika meninggalkannya akan menjadi kaya. Bila setiap pengajar tunduk dan terprovokasi oleh bisikan tersebut, akan hancurlah umat ini karena semakin sedikit generasi berikutnya yang mampu membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.

Untuk mengatasinya, yakinilah bahwa pemberi rezeki yang sesungguhnya hanya Allah ﷻ, bukan manusia. Kemudian berpikirlah untuk mencari usaha yang halal, tanpa harus meninggalkan tugas mengajarkan Al Qur’an. Perlu dijaga kesinergian antara dua hal tersebut karena sama pentingnya di sisi Allah ﷻ , dan jika dipadukan insya Allah akan memberikan keberkahan.

2.Waswas Syaithan bagi Para Pembaca Al Qur’an.

Godaannya adalah dengan menunda-nunda bagian juz yang harus dibaca pada sebuah masa tertentu. Walaupun sudah mulai membaca, timbul perasaan sudah terlalu lama bersama Al Qur’an atau tiba-tiba tidak dapat berkonsentrasi, atau harus segera menyelesaikan tugas-tugas yang lain.
Demikian pula waswas seakan-akan tidak ada waktu untuk tilawah Al Qur’an.

Sebagai solusinya, carilah jawaban untuk melawan berbagai bisikan itu dari dalam diri kita sendiri. Contohnya:

a. Kita kecam diri sendiri, dengan mengatakan “mengapa untuk kegiatan yang lain tersedia waktu yang cukup, sedangkan untuk bertilawah Al Qur’an tidak ada waktu?” . 

Persoalan sesungguhnya sebenarnya bukanlah ada tidaknya waktu, tetapi adakah kemauan dari dalam diri kita untuk menyempatkannya atau tidak?

b. Bila tak mampu berkonsentrasi, berhentilah sejenak, tanyakan pada diri kita: “Sudah berapa lamakah kita ber-tilawah? Sudahkah kita merasa dinasehati oleh Allah dengan apa yang kita baca?” 

Jika belum, mulailah dengan konsentrasi baru dan merasakan bahwa ayat-ayat Al Qur’an sebagai pesan langsung dari Allah ﷻ kepada kita yang harus dihayati, dan jika tidak melakukannya maka kita akan rugi besar. Sekian tahun rajin membaca Al-Qur’an tetapi selama itu pula kita belum merasakan ruh dan nikmatnya Al Qur’an.

3 .Waswas Syaithan bagi Penghafal Al Qur’an.

Godaannya adalah Syaithan membisikkan bahwa aktivitas menghafal Al Qur’an ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Timbul rasa pesimis dalam menghafal.

Sebetulnya hanya satu keinginan Syaithan : “Berhentilah saat ini juga untuk menghafal Al Qur’an!” .

Sebagai solusinya, antara lain adalah :

a. Kita tanyakan pada diri sendiri: “Apa motivasi yang terngiang saat dahulu mulai menghafal?” 

Beberapa motivasi yang mungkin menjadi jawaban antara lain:

1. Ingin membersihkan kehidupan masa lalu yang kotor dan kelam penuh maksiat, kegiatan menghafal Al Qur’an menjadi bentuk taubatan nasuha kepada Allah ﷻ

2. Ingin mendalami agama Islam lebih jauh, sesuai ungkapan salafush shalih kita : “Tidaklah seseorang itu disebut orang yang berilmu ('Alim) kecuali jika ia telah hafal Al Qur’an.”

3. Ingin memanfaatkan masa remaja yang produktif dengan kegiatan yang dapat dikenang saat dewasa.

b. Segeralah bergaul dengan orang-orang yang sedang menghafal Al-Qur’an, agar tidak merasa sendiri dalam ber-mujahadah dan bersabar dengan Al Qur’an, juga agar kita mengetahui bahwa begitu banyak orang yang lebih bersemangat dan tahan banting.

4.Waswas Syaithan bagi orang yang memahami Al Qur’an.

Godaannya adalah berpindah-pindah kegiatan. Saat membaca tafsir malah ingin tilawah dan demikian pula sebaliknya. Lalu menyepelekan kegiatan yang satu karena larut dalam kegiatan yang lain, misal meremehkan orang yang menghafal karena sedang mempelajari sebuah tafsir dan meyakini bahwa hanya dengan mempelajari tafsirlah metode interaksi yang paling baik dengan Al Qur’an.

Beberapa solusinya antara lain :

a. Sadarilah bahwa hakikat interaksi dengan Al Qur’an mencakup membaca, menghafal dan memahami, berniatlah membaca dan menghafal saat memahami Al Qur’an. Jangan remehkan orang yang membaca dan menghafal saat kita memahami Al Qur’an karena setiap kegiatan ada fadhillah atau keutamaannya masing-masing.

b. Sadarilah bahwa hakikat berinteraksi dengan Al Qur’an adalah harus memiliki waktu-waktu yang terbagi secara baku.

Misalnya dalam satu pekan setiap hari tilawah, setiap tiga hari sekali membaca tafsir dan sehari sepekan menghafal. Jika hal ini bisa istiqamah, niscaya akan dirasakan perkembangannya dari segi wawasan, keimanan, pemikiran dan mentalitas. Pasti akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan kegiatan berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam bentuk membacanya saja.

Jumat, 13 Januari 2017

Belajar Dari Mukmin Yang Tinggi Semangat Jihadnya

   



"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah : 111)

Umumnya ayat tersebut sering dibahas berkaitan dengan motivasi berjihad di jalan Allah. Namun kali ini marilah kita memahaminya dari sisi yang lain. Bahwa ayat diatas menggambarkan keyakinan yang begitu dalam yang ada pada diri orang-orang yang beriman terhadap nikmat dan keindahan surga. Keyakinan yang amat kuat dan mendalam itulah yang akan memotivasi siapapun untuk bersusah payah dalam berjihad demi keyakinannya terhadap surga yang telah dijanjikan Allah ﷻ
Beberapa mujahid yang keyakinannya terhadap surga begitu tinggi antara lain:
  • Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu, walaupun beliau berusia 90 tahun tetap memacu dirinya untuk turut serta dalam jihad.
  • ‘Umair bin Al-Humam radhiyallahu 'anhu, yang segera menghentikan makannya karena tidak sabar ingin berjihad pada perang Badar.
  • Hanzhalah radhiyallahu 'anhu, yang segera bergegas berangkat berjihad sehingga lupa mandi junub, lalu ketika para sahabat melihat ada tetesan air keluar dari telinga jasadnya yang mulia, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa jenazahnya telah dimandikan oleh para malaikat.
lalu dari manakah semangat juang luar biasa ini ? Semangat itu berasal dari kerinduan terhadap surga yang dijanjikan oleh Allah ﷻ.
Jika saat ini kita telah dikaruniai oleh Allah kedekatan dengan Al Qur`an, apakah dalam bentuk membaca, menghafal, mengajarkannya, mengkajinya dan berbagai bentuk lainnya, maka tantangannya adalah bagaimana kita bisa bertahan dalam karunia Allah itu dalam kurun waktu yang panjang, bahkan sampai akhir hayat ? Jawabannya adalah kembali kepada harapan apa yang selalu kita rindukan dari Allah ﷻ.
Bila saat ini kita aktif dalam kegiatan berinteraksi dengan Al Qur`an, tanyakan pada diri kita masing-masing: keyakinan apakah yang sesungguhnya melatarbelakangi kegiatan ini sehingga harus dipertahankan sedemikian rupa? Jika belum ada, kita harus segera mencarinya. 
Berikut ini adalah beberapa contoh keyakinan yang melatarbelakangi bersama Al Qur`an.

  • Keyakinan sebagian orang yang sudah lanjut usia, atau mereka yang hidup di kampung, jauh dari pengaruh ghazwul fikr dalam hidup dengan Al Qur`an. Biasanya hal tersebut berasal dari keyakinan mereka akan balasan pahala dan keutamaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada orang yang mendekatkan diri kepada Allah melalui Al Qur`an.
  • Keyakinan para orientalis barat dalam mempelajari Al-Qur’an. Jika mereka menguasai semua literatur Islam, mereka yakin akan lebih leluasa untuk memutarbalikkan nilai-nilai Islam dari nash-nash sesungguhnya, sehingga mereka bisa mengalahkan, menugasai dan menjajah umat Islam dalam kurun waktu yang lama.
  • Keyakinan para Qori’ dalam meraih kejuaraan MTQ.

Berbekal keyakinan itulah, mereka begitu sabar dalam meraih apa yang mereka inginkan. Tantangannya adalah bagaimana menumbuhkan sebuah keyakinan yang dapat menghasilkan energi sekuat yang dimiliki oleh orang-orang tersebut di atas.
Ada sebuah realita pada sebuah komunitas yang paham tentang pentingnya Al Qur`an dalam proses aktivitas da’wah dan tarbiyah, bahkan terlibat aktif di dalamnya, namun minim dan lemah semangat dan keyakinannya dalam meraih kemampuan berinteraksi dengan Al Qur`an. Bagi kelompok ini, baru menghafal juz 30 saja masih dirasakan sebagai beban yang nyaris tidak bisa dilaksanakan . Jika demikian halnya, lalu bagaimana dengan tantangan dakwah yang jauh lebih berat dan lebih besar daripada itu ? Semoga Allah ﷻ senantiasa menunjukkan jalan yang Ia ridhai untuk kita semua. 
Analisa dari fenomena tersebut adalah:
  • Belum terbentuk suatu sistem kehidupan yang secara otomatis mendorong seseorang untuk melakukan apa yang diyakininya. Dalam proses tarbawi dan da’awi, seorang yang belum hafal 30 juz belum merasa ada yang kurang. Demikian pula kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an belum menjadi sesuatu yang sangat didambakan dalam kehidupannya.
  • Belum ada penghargaan yang tinggi dari masyarakat terhadap orang yang lebih menguasai dan memiliki kemampuan ilmu tentang Al Qur`an,  sehingga muncul suatu kesan “untuk apa bersusah payah berkecimpung di bidang Al Qur`an jika masyarakat belum mengerti urgensinya ?”

Masyarakat sekarang lebih menghargai penceramah yang hanya bermodal keberanian berbicara dan popularitas, dibandingkan dengan guru Al Qur`an yang memiliki kekayaan pengetahuan tentang ayat-ayat Al-Qur’an.

Lemahnya motivasi untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dan minimnya keyakinan terhadap fadhillah atau keutamaannya adalah penghambat perkembangan pendidikan Al Qur`an. Maka menjadi tugas kitalah untuk mengubah kedua fenomena tersebut, agar masyarakat menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an dan memahaminya dengan baik.

Rabu, 11 Januari 2017

Sudahkah Kita Memiliki Iman Yang Cukup Untuk Berinteraksi Dengan Al Qur`an ?




Apapun bentuk interaksi kita dengan Al Qur`an membutuhkan modal utama berupa iman yang kuat kepada Allah ﷻ. Sebaliknya, kedekatan kita dengan Al Qur`an merupakan indikator keimanan yang baik.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal".(Al Anfaal : 2)
Untuk merintis peningkatan keimanan, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh sebagai berikut :
  1. Mulailah belajar tentang Islam.
    Sadarilah bahwa Islam adalah agama pengetahuan. Belajar tentang Islam bagi orang beriman jangan pernah berhenti dan merasa selesai. Hal ini mengingat luasnya ilmu Islam itu sendiri dan beragamnya amal shalih yang harus kita lakukan, padahal setiap amal memerlukan ilmu dan iman tersendiri.
  2. Apalah arti ilmu jika tidak menghasilkan amal ?
    Artinya perlu mengamalkan ilmu yang telah dipelajari agar iman selalu meningkat. Di balik peningkatan iman akan tumbuh rasa ingin lebih dekat dengan Al Qur`an.
  3. Mulailah dari amal shalih yang paling utama, yaitu shalat lima waktu. Jika belum sanggup melakukannya, pelajarilah kembali Islam dan berdoalah kepada Allah ﷻ agar dibukakan pintu hidayah untuk dapat melaksanakan shalat lima waktu dengan rutin. Bila sudah mampu, tingkatkan kualitasnya dengan berjamaah di masjid. Setelah mampu, tingkatkan kualitasnya dengan berusaha khusyu’.
  4. Setelah mampu shalat berjamaah di masjid dengan khusyu’, berusahalah untuk melaksanakan shalat dua rakaat sebelum dan sesudah shalat wajib (yaitu qabliyah dan ba’diyah). Tentu perlu dipelajari, pada shalat wajib mana kita tidak boleh melakukan shalat sunnah ba’diyah (yaitu Ashar dan Shubuh), serta mana yang muakkadah (yang sangat dianjurkan) dan mana yang bukan (karena tidak rutin dilaksanakan Rasulullah ﷺ).
  5. Pada tahap ini, bangunlah iman lebih tinggi dengan mulai mencoba shalat sunnah di waktu malam (tahajjud/qiyamullail). Bacalah hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan shalat tahajjud agar kita lebih termotivasi. Jangan pernah mengatakan tidak mampu. Rayulah diri dengan memulainya dari hal yang sekecil-kecilnya, misalnya diawali dari sebulan sekali, lalu dua kali, tiga kali dan seterusnya.
  6. Peningkatan iman berikutnya adalah dengan melaksanakan ibadah-ibadah yang qauliyah (yang diucapkan). Dapat berupa istighfar seratus kali sehari, membaca Al-Ma’tsurat (dzikir pagi dan petang yang dicontohkan Rasulullah ﷺ), membaca tasbih, tahmid, tahlil dan lain sebagainya yang mengacu kepada Kitab Hadits berisi doa dan dzikir Rasulullah ﷺ.
  7. Keimanan kepada Allah juga dapat ditingkatkan dengan melakukan berbagai amal kontributif, seperti infaq di jalan Allah, untuk fakir miskin, mengikuti dan mendukung kegiatan pembelaan atau penyebaran agama Islam dan lain-lainnya.
Kesucian jiwa merupakan modal mutlak dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Artinya perlu mengevaluasi diri sendiri.
Apakah kita tidak tertarik untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an karena kondisi jiwa kita yang tidak cukup bersih untuk berdekatan dengan kitab sesuci Al-Qur’an? 

Jika jawabannya ya, tidak ada jalan lain kecuali bersegera untuk bertaubat kepada Allah, banyak berdzikir dan berdoa hanya kepada-Nya.

Selasa, 10 Januari 2017

Membangun Kemampuan Berinteraksi Dengan Al Quran


“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(Q.S. Al Baqarah :121)
Kita sering mengeluh mengenai Al Qur`an. Tak punya waktu untuk tilawah, tak lagi cukup muda untuk memulai tahfidz (menghafal), dan tak mampu tadabbur karena tak paham bahasa arab. Jika kita kurang berinteraksi dengan Al Qur`an, akan lahir para intelektual yang hanya kaya ilmu tapi tanpa ruh. Ilmu yang tanpa ruh akan kehilangan fungsi utamanya. Fungsi utama ilmu adalah untuk mengantarkan manusia mengenal (ma’rifah) kepada Allah ﷻ.
Menurut Al Ustadz Sayyid Quthb -rahimahullah-, berinteraksi dengan Al Qur`an perlu disertai dengan aktivitas:
  1. Rajin membacanya.
  2. Rajin mengkaji isi dan ilmu-ilmunya.
  3. Hidup dalam kondisi di mana aktivitas, upaya, sikap, perhatian dan pertarungan sebagaimana kondisi di mana pertama kali Al Qur`an diturunkan.
  4. Hidup bersama Al Qur`an dengan sepnuh hati dan berkeinginan untuk melawan tradisi jahiliyah yang saat ini menyelimuti seluruh sendi kehidupan umat manusia.
  5. Membangun nilai-nilai Al Qur`an di dalam masyarakat dan seluruh umat manusia.
  6. Siap menghadapi dan memberantas segala macam pemikiran jahiliyah serta seluruh tradisinya di dalam realitas kehidupan.
Adapun pertanyaan yang dapat menjadi bahan evaluasi kualitas interaksi dengan Al Qur`an adalah :
  1. Sudahkah kita beriman terhadap kebenaran Al Qur`an, janji-janji yang ada di dalamnya, berbagai keutamaan yang dijanjikan Rasulullah ﷺ bagi orang yang rajin berinteraksi dengannya ?
  2. Sudahkah kita mampu membacanya ?
  3. Mampukah kita membacanya dengan baik sesuai dengan keaslian bacaan Al Qur`an ?
  4. Sudahkah kita membacanya secara rutin setiap hari ? Kalau kita rajin dan konsisten membaca 1 juz per hari, artinya dalam setahun minimal 12 kali khatam. Para salafush shalih umumnya mampu khatam sepekan sekali, bahkan tiga hari sekali.
  5. Sudahkah kebiasaan membaca Al Qur`an telah menambah bobot iman dan Islam kita? Sehingga tingkat loyalitas kita terhadap Allah ﷻ,  Rasul-Nya dan Al Qur`an semakin meningkat sehingga menghasilkan energi yang membuat kita selalu siap berbuat apa saja untuk Islam ini ?
  6. Adakah keinginan untuk melakukan kegiatan menghafal Al Qur`an ? 30 juz, 15 juz, 10 juz, 3 juz, atau sekedar 1 juz saja ? Menghafal adalah upaya untuk menambah kedekatan dengan Al Qur`an. Karena antara tilawah dan menghafal adalah dua hal yang berbeda. Dengan menghafal, jiwa dan otak kita akan terus menyerap lantunan ayat-ayat Al Qur`an yang diulang-ulang begitu banyak oleh lidah kita.
  7. Apakah kita merasa sedih dan penasaran jika ada ayat-ayat yang belum dipahami ?
  8. Siapkah diri kita menjadi manusia yang Qur’ani seperti yang diungkapkan Aisyah -radhiyallahu 'anha-  atas Rasulullah ﷺ bahwa tabi’at dan akhlak beliau adalah Al Qur`an ?
  9. Ada iming-iming surga dan keselamatan dari neraka di akhirat kelak dimana untuk mendapatkannya dibutuhkan pengorbanan jiwa dan harta untuk membela Islam (berjihad di jalan Allah). Lalu sudah siapkah diri kita untuk merintisnya?

(Taujih Guru Kami, KH. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc -hafidzhullah-)